Simulasi Konfigurasi Jaringan ICT Berbasis Konfigurasi Jaringan Eksisting di Network Operation Center Pemerintah Kabupaten Badung

Catatan

  • Tulisan ini adalah laporan kerja praktek saya pada Proyek Instalasi Fiber Optik di Kawasan Pusat Pemerintah Kabupaten Badung, Bali dari Juni-August 2012 dimana saya mengambil bagian konfigurasi jaringan komputernya yang mayoritas menggunakan perangkat Cisco dan tema yang saya angkat pada laporan ini adalah simulasi konfigurasi peralatan Cisconya perangkat lunak simulasi Cisco Packet Tracer.
  • Laporan kerja praktek ini merupakan suatu kewajiban untuk kelulusan S1 saya di Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Udayana. Namun, laporan ini tidak pernah dipublikasikan dimana-mana dan hak cipta sepenuhnya saya yang pegang dan sudah 8 tahun sejak laporan ini ditulis dimana keadaan di lapangan telah berubah sehingga tidak akan membongkar rahasia yang dapat berbahaya bagi Pemerintahan Kabupaten Badung. Oleh karena ini saya nyatakan laporan ini terbuka, boleh disalin, boleh dipublikasi ulang, dan boleh dijual dengan syarat menyebut nama saya sebagai penulis asal dan sebutkan bahwa laporan ini terbuka di tautan ini (customized CC-BY-SA).

Abstrak

Proyek Instalasi Fiber Optik di Kawasan Pusat Pemerintah Kabupaten Badung merupakan suatu cara untuk beralih ke berbasis ICT (Information Communication Technology). Pelaksanaan proyek dilaksanakan dengan survei lingkungan, penyiapan alat, bahan, dan tenaga kerja, pembuatan jalur fiber optik, penamaman fiber optik, penghubungan fiber optik ke perangkat di masing-masing gedung, konfigurasi jaringan, dan perapian tepat menjadi seperti semula. Pada laporan ini akan dibahas mengenai konfigurasi jaringan.

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

ICT (Information Communication Technology) merupaka suatu istilah yang mencangkup mengenai informasi, komunikasi, telekomunikasi, dan komputer. Dengan adanya ICT ini menggantikan tempat informasi yang bersifat benda nyata. Perpustakaan dapat diganti dengan halaman web pada jaringan Internet, dokumen berupa kertas dan buku dapat diganti dengan server berisi dokumen elektronik, surat-menyurat melewati pos dapat diganti dengan email (electronic mail). Pada Internet tersedia juga informasi berupa gambar dan video. Keuntungan metode ini dibanding dengan metode klasik adalah efisiensi terhadap energi, tempat, dan waktu. Dengan ICT ini segala bentuk informasi yang terkandung dapat diakses kapan saja dan dimana saja secara cepat (tanpa harus membuang energi dan waktu untuk pergi ke suatu tempat dan dibatasi oleh waktu untuk mengakses suatu informasi).

1.2 Tujuan

Melaporkan konfigurasi jaringan komputer pada Proyek Pembangunan Infrastruktur Jaringan Fiber Optik di Kawasan Pusat Pemerintah Kabupaten Badung, dan mensimulasikannya di Cisco Packet Tracer.

1.3 Manfaat

  1. Memiliki dokumentasi konfigurasi jaringan komputer pada proyek ini.
  2. Memamahi lebih lanjut mengenai konfigurasi jaringan komputer ini dengan mengkaitkan teori yang ada.
  3. Dengan mensimulasikannya di Cisco Packet Tracer maka dapat lebih cepat dan mudah dipahami.

1.4 Pelaksanaan Kerja Praktek

Kerja Praktek ini adalah Pembangunan Infrastruktur Jaringan Fiber Optik dilaksanakan dari Juni-September 2013 di Kawasan Pusat Pemerintah Kabupaten Badung. Secara umum tahap proyek ini adalah

  • Penggalian lubang di beberapa titik dan boring untuk melewati kabel Fiber Optik di bawah tanah, serta pemasangan jalur Fiber Optik di masing-masing basement gedung.
  • Penghubungan Fiber Optik dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika ke masing-masing dinas, terdapat 12 gedung, dan melakukan pengujian kinerja kabel Fiber Optik.
  • Pemasangan Switch dan Router di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika dan Switch di masing-masing gedung sebagai penghubung Fiber Optik dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika ke masing-masing gedung.
  • Konfigurasi Switch dan Router, serta melakukan pengujian kinerja.
  • Membersihkan dan merapikan bekas kerja.

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan

  1. Pembahasan konfigurasi adalah mulai dari Cisco Switch c3750e dari semua Gedung sampai modem pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi.
  2. Membahas IP (Internet Protocol) Address, Virtual Local Area Network, Static Route, Router Information Protocol, Network Address Translation, Telnet Login, jenis-jenis kabel yang digunakan.
  3. Tidak membahas keamanan jaringan dan pembatasan bandwidth, baik pada Cisco ASA maupun Mikrotik karena keamanan jaringan dan pembatasan bandwidth masih tahap perencanaan, akan diimplementasikan di masa mendatang.
  4. Menggunakan Cisco Packet Tracer sebagai simulator dengan batasan menggunakan Kabel UTPsebagai pengganti kabel Fiber Optik Switch 2960–24TT sebagai pengganti Switch c3750e, Multilayer Switch 3560–24 PS sebagai peganti Multilayer Switch cat4500e, dan Router 2811 sebagai peganti Mikrotik, Modem, Router ASA, dan Router 2900 dikarenakan tidak adanya modul tersebut di Cisco Packet Tracer.

1.6 Sistematika Penulisan

  • BAB 1 Pendahuluan berisikan latar belakang, tujuan, manfaat, pelaksanaan kerja pratek dan ruang lingkup dan batasan.
  • BAB 2 Tinjauan Pustaka berisikan IP address, Switch dan Router, Virtual Local Area Network, Static Route, Router Information Protocol, Network Address Translation, Telnet Login, Kabel UTP, dan Kabel console Cisco.
  • BAB 3 Konfigurasi Jaringan ICT Pemerintah Kabupaten Badung berisikan tempat dan waktu, alat dan bahan, rencana konfigurasi jaringan, dan konfigurasi pada masing-masing perangkat.
  • BAB 4 Pembahasan konfigurasi jaringan menuju dari Multilayer Switch cat4500e ke Modem, konfigurasi jaringan lokal, dan uji koneksi.
  • BAB 5 Penutup berisikan simpulan, dan saran.

BAB 2 Tinjauan Pustaka

2.1 Pendahuluan

Untuk melakukan konfigurasi ini diperlukan pengetahuan mengenai saat menggunakan kabel ethernet RJ45 tipe straight-thru atau crossover untuk menghubungkan antar perangkat. Pada konfigurasi ICT ini digunakan switch sebagai penghubung antar banyak perangkat dan router sebagai penghubung ke Internet. Pengalamatan perangkat digunakan IPV4 (Internet Protocol Version 4). Diperlukan pengetahuan yang dalam mengenai IPV4 untuk konfigurasi ICT tingkat seluas pusat Pemerintah. Diperlukan pengetahuan mengenai VLAN (Virtual Local Area Network) untuk memudahkan management jaringan lokal, dan sedikit NAT (Network Address Translation) untuk menghubungkan ke Internet. Telnet login bersifat optional, untuk memudahkan management. Maka teori-teori yang perlu diketahui dijelaskan pada BAB ini.

2.2 Kabel Ethernet RJ45 dan Kabel DB9 — RJ45

Kabel Ethernet RJ45 yang menghubungkan komputer dengan switch, switch dengan router menggunakan kabel straight-thru. Sedangkan untuk menghubungkan antar komputer, antar switch, antar router, dan komputer dengan router menggunakan kabel crossover. Kabel ethernet RJ45 terdiri dari 8 pin, dimana 4 yang digunakan sebagai transmitter tegangan minus, transmitter tegangan plus, receiver minus, dan receiver plus. Ada jenis straight-thru dan crossover karena terdapat perbedaan lokasi transmitter dan receiver (The Internet Center, 2013).

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

2.3 Switch dan Router

Switch merupakan sebuah perangkat yang dapat menghubung antar komputer, antar jaringan lokal, dan antar komputer dengan jaringan lokal. Pada OSI (Open Systems Interconnection) reference model bekerja pada layer 2 yaitu datalink. Switch memiliki beberapa port dan bekerja dengan melanjutkan frame yang datang dari suatu port ke port yang dituju. Switch menyimpan hardware address dan tempat port yang terhubung perangkat-perangkat yang terhubung di suatu port.

2.4 IP (Internet Protocol) Address

IP adress atau di terjemahkan sebagai alamat IP mendefinisikan sebuah host atau sebuah router ke jaringan Internet, merupakan deretan angka biner. Pada jaringan komputer dan jaringan Internet saat ini menggunakan IP address untuk menunjukkan identitas sebuah perangkat. Alamat ini yang digunakan sebagai identitas pengirim dan penerima data. Oleh karena itu IP address harus unik dan universal. Saat ini ada 2 versi IP, yaitu IP versi 4 dan IP versi 6. IPV4 terdiri dari 32 bit dan ditulis dalam bentuk biner atau decimal, sedangkan IPV6 terdiri dari 128 bit dan ditulis dalam bentuk biner atau hexadecimal, yang saat ini digunakan adalah IPV4, IPV6 untuk masa depan.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

2.5 VLAN (Virtual Local Area Network)

VLAN merupakan sekumpulan perangkat pada 1 atau lebih LAN yang terkonfigurasi untuk berkomunikasi bagaikan terhubung pada kabel yang sama, dimana sebenarnya mereka berada pada segment LAN yang berbeda. Vlan berdasarkan logika dari pada fisik, oleh karena VLAN fleksibel.

Image for post
Image for post

2.6 Static Route dan RIP (Routing Information Protocol)

Static Route merupakan mekanisme routing yang permanen. Jalur untuk menuju suatu jaringan pada sebuah perangkat router ditentukan langsung oleh administrator. Pada pengaturan static route suatu router adalah next hop (jalur berikutnya) bila menuju suatu jaringan.

2.7 NAT (Network Address Translation)

IPV4 sudah hampir habis, artinya sebagian besar sudah digunakan diseluruh dunia. Oleh karena itu dikembangkan IPV6. Selama menunggu IPV6 diterapkan ada solusi untuk menghemat alamat IP pada versi 4 yaitu NAT. Alamat IPV4 digolongkan 2 jenis yaitu IP privat dan IP global. IP global merupakan alamat IP yang hanya dimiliki 1 perangkat diseluruh dunia dan dikenal dalam jaringan Internet. Sedangkan IP privat merupakan alamat IP yang tidak dikenal dalam jaringan Internet dan bebas digunakan oleh perangkat manapun sehingga pemilik lebih dari 1. IP privat adalah 10.x.x.x 255.0.0.0, 172.16.x.x 255.255.0.0, dan 192.168.x.x 255.255.255.0. Sedangkan 127.x.x.x 255.0.0.0 digunakan sebagai loopback. Selain itu merupakan alamat IP global (Inixindo, 2005).

2.8 Telnet

Telnet merupakan applikasi bekerja pada OSI layer 7 yaitu applikasi yang dapat melakukan remote login yaitu masuk ke suatu perangkat menggunakan komputer lain. Telnet sangat berguna untuk bekerja jarak jauh, yang seharusnya datang ke lokasi perangkat untuk masuk ke sistem, dengan telnet pemasukan ke sistem dapat dilakukan jarak jauh. Telnet mentransmisikan data tanpa enkripsi dan dibuka pada port nomor 23 (Burgess, 2004).

BAB III Konfigurasi Jaringan ICT Pemerintah Kabupaten Badung

3.1 Pendahuluan

Konfigurasi jaringan ICT pada laporan ini adalah konfigurasi ICT di Pemerintah Kabupaten Badung. Konfigurasi jaringan ICT meliputi pengalamatan IP address, pengalokasian identitas VLAN, debugging, routing, remote login, dan NAT. Pemakaian port pada perangkat juga ditentukan. Bentuk fisik alat yang dikonfigurasi dapat dilihat pada subbab 3.3 Alat dan Bahan pada Gambar 3.1 dan Gambar 3.2. Pengalamatan IP, port yang digunakan, dan VLAN dapat dilihat pada subbab 3.4 Rencana Konfigurasi.

3.2 Tempat dan Waktu

Konfigurasi dilakukan di Gedung 10 yaitu Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pusat Pemerintah Kabupaten Badung pada tanggal 4 September 2013 hingga 8 September 2013.

3.3 Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Alat

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

3.4 Recanan Konfigurasi

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

BAB 4 Pembahasan

4.1 Pendahuluan

Pada pembahasan dilakukan simulasi pemodelan dan konfigurasi ICT di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika, Pemerintah Kabupaten Badung dengan program Cisco Packet Tracer. Dilakukan simulasi karena konfigurasi ICT di Pemerintah Kabupaten Badung bersifat tetap dan tidak diperbolehkan untuk dikonfigurasi ulang atau dikonfigurasi lanjut. Oleh karena itu tahap konfigurasi disimulasikan di program Cisco Packet Tracer, digunakan program ini karena alat yang digunakan adalah Cisco. Konfigurasi ICT pada simulasi sama persis dengan konfigurasi ICT di lapangan. Hanya terdapat perbedaan pada model alat seperti dijelaskan pada BAB I subbab 1.5 Ruang Lingkup dan Batasan, dan perbedaan pada interface.

4.2 Penyiapan Modem

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
  • Untuk mulai konfigurasi alamat IP pada interface dengan masuk ke “configure terminal”.
  • Perintah “hostname Modem” untuk memberi nama.
  • Perintah “access-list 1 permit 202.46.10.130” ditambah dengan “access-list 1 deny any” agar menyerupai keadaan dilapangan dikonfigurasi agar hanya alamat IP 202.46.10.130/24 yang bisa masuk.
  • Untuk mengkonfigurasi suatu interface masuk ke interfacenya terlebih dahulu dengan perintah “ interface fastethernet 0/0” ( interface fastethernet 0/0 merupakan interface yang terhubung dengan router Internet pada simulasi ini).
  • Diberikan alamat IP dengan perintah “ip address 202.46.10.129 255.255.255.0”, perintah “ip access-group 1” agar memberlakukan access-list 1.
  • Untuk menghidupkan interface dengan perintah “no shutdown”.
  • Terakhir perintah “end” untuk keluar dari configuration dan perintah “write” untuk menyimpan konfigurasi.

4.3 Konfigurasi Jaringan Menuju Internet

Image for post
Image for post
  • Perintah “enable password cisco” dan “enable secret cisco” memberi password “cisco” dan secret “cisco” dimana diperlukan untuk telnet login. Perintah “line vty 0 4” dilanjuti dengan “password cisco” dan “login” untuk mengaktifkan telnet server dengan password “cisco”.
  • “Exit” untuk keluar dari suatu konfigurasi. Untuk routing digunakan RIP versi 2 dimana versi 2 mendukung classless routing (tidak terbatas kelas A, B, atau C) sedangkan versi 1 hanya bisa class routing, misalnya jaringan 192.168.10.0 langsung terbaca 192.168.10.0/24 padahal yang diinginkan 192.168.10.0/26 atau lainnya. “Redistribute static” berarti meneruskan static route bila ada konfigurasi static route. “No auto-summary” untuk tidak mengaktifkan auto-summary yang fungsinya class routing yaitu langsung membaca alamat IP apakah dia tergolong kelas A, B, atau C, auto-summary hanya bisa dimatikan pada RIP versi 2, dan tidak bisa di versi 1. Perintah “network 192.168.253.0” untuk menambah informasi jaringan tetangganya. Menurut Stallings mengenai RIP di BAB 2 masing-masing router akan bertukar informasi dengan router tetangganya agar dapat memilih jalur. Perintah tersebut merupakan perintah untuk memperkenalkan tetangganya. Tidak dilakukan RIPv2 pada jaringan 202.46.10.0/24 karena diumpamakan bersifat modem.
  • Oleh karena itu dilakukan ditambahkan static route untuk menuju jaringan Internet dengan perintah “ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 202.46.10.129”.
  • Pada masing-masing interface ditambah “ip virtual-reassembly” untuk mencegah penyerangan yang memanfaatkan waktu dan memory dibutuhkan untuk menyusun paket data.
  • Secara keseluruhan konfigurasi router ini diserupai dengan konfigurasi Cisco Router 2900. Cara konfigurasinya adalah konfigurasi gambar 4.2 ditambah dengan konfigurasi gambar 4.3 berdasarkan data tabel 3.5.
  • RIPv2 adalah “network 172.16.0.0”, hanya 172.16.0.0–172.16.255.255 yang terkoneksi menurut tabel 3.4.
  • Diasumsi dapat menuju jaringan Internet seperti di lapangan, diberikan static route dengan perintah “ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 172.16.128.2”, artinya menuju kesegala alamat IP 0.0.0.0 dengan segala subnet mask 0.0.0.0 melalui 172.16.128.2 yaitu alamat IP interface di ASA terhubung dengan NOC.
  • Pada simulasi ini diperlukan perintah “ip routing” untuk mengaktifkan routing.
Image for post
Image for post

4.4 Konfigurasi NAT (Network Address Translation) pada Cisco Router 2900

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
  • Perintah “ip nat inside source list 2 interface fastethernet 0/1 overload” adalah perintah untuk melakukan NAT (Network Address Translation). Ip nat inside mengkonversi alamat IP yang masuk dari router Internet, berdasarkan access-list 2 (source list 2) dikonversi untuk keluar melalui interface fastethernet 0/1, yaitu dikonversi menjadi alamat IP yang dipasang pada interface tersebeut (202.46.10.130), perintah overload agar segala jenis alamat IP yang masuk dikonversi menjadi 1 alamat IP.
  • Setelah itu perlu dipasang dari interface masuknya paket data (fastethernet 0/0) “ip nat inside”, dan pada interface keluarnya paket data (fastethernet 0/1) “ip nat outside”. Konfigurasi untuk menuju jaringan Internet (keluar dari Modem) telah diselesaikan.
Image for post
Image for post

4.5 Konfigurasi Jaringan Lokal

Konfigurasi terakhir adalah pada LAN (Local Area Network), yaitu konfigurasi menghubung semua Cisco switch c3700e di semua gedung menuju Multilayer Switch cat4500e di gedung 10 (NOC). Pemberian identitas VLAN per gedung dan per dinas berdasarkan tabel 3.3. Pada konfigurasi ini dibuat interface masing-masing VLAN di NOC dengan alamat IP berdasarkan tabel 3.4 dan pada tabel tersebut tersedia informasi pemasangan VLAN pada beberapa interface di switch masing-masing gedung. Untuk cara konfigurasi switch masing-masing gedung sama. Maka pada penulisan ini akan ditampilkan konfigurasi lokal NOC dan hanya 2 konfigurasi switch dari 2 gedung.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

4.6 Pengujian Koneksi

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post

BAB 5 Penutup

5.1 Simpulan

Topologi pada jaringan ini adalah tree. Pada jaringan lokal terdiri dari 12 switch dan 1 multilayer switch. Semua gedung terkoneksi ke gedung 10. Masing-masing dinas berada pada 1 VLAN ID. Total VLAN yang digunakan adalah 25 dari VLAN 10 — Vlan 35, dengan network ID 172.16.10.0/24–172.16.35.0/24. Pemasangan suatu VLAN ID dilakukan di 1 multilayer switch di gedung 10 dan 12 switch semua gedung. Port yang terkoneksi dari 12 switch ke multilayer switch adalah mode trunk dimana agar semua VLAN ID bisa masuk. Masing-masing switch dan multilayer switch diberi alamat IP pada VLAN 1 seolah-olah pemberian alamat IP pada perangkat tersebut.

5.2 Saran

Saran yang dapat disampaikan adalah untuk meningkatkan kualitas dari konfigurasi jaringan.

  • Saran kedua adalah memberi label pada masing-masing port untuk kejelasan keterangan fungsi port tersebut.
  • Saran terakhir adalah pada VLAN. Lebih mudah bila multilayer switch dijadikan VTP server sedangkan yang lain VTP client sehingga cukup konfigurasi VLAN di multilayer switch. Lebih baik masing-masing VLAN ID diberi nama agar ada keterangan pada perangkat mengenai yang menggunakan VLAN tersebut.

Daftar Pustaka

  • Burgess, M. 2004. Principles of Network and System Administration. John Wiley & Sons, Ltd. : Chicester
  • Cisco. 2004. Catalyst 4500 Series Switch Cisco IOS Software Configuration Guide. Cisco Systems, Inc : San Jose.
  • Gebali, F. 2008. Analysis of Computer and Communication Networks. Springer Science + Business Media : New York
  • Inixindo, S. 2005. Workshop Basic Internetworking. Graha Pena : Surabaya
  • Peterson, L. Davie, B. 2003. Computer Networks Third Edition. Morgan Kaufmann : San Fancisco
  • Stallings, W. 1998. High-Speed Networks TCP/IP and ATM Design Principles. Prentice-Hall, Inc. : New Jersey.
  • Sutanta, E. 2005. Komunikasi Data & Jaringan Komputer. Graha Ilmu : Yogyakarta.
  • The Internet Center. 2013. http://www.incentre.net/ethernet-wiring-diag.html. Diakses 24 Juli 2013.
  • Western Telematic Inc. 2013. http://www.wti.com/p-236-72-3383-01-cisco-rollover-console-cable-blue-db9-to-rj45-6.aspx. Diakses 24 Juli 2013.

Mirror

this blog contains all my articles licensed under creative commons attribution customized sharealike (cc-by-sa) where you can sell but mention the open one here

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store